Homer Simpson&Wakil Rakyat *
May 17, 2010, 4:18 am
Filed under: Academic Articles

Membaca berita tentang sidang para wakil rakyat yang terhormat, mengembalikan ingatan saya kepada salah satu dari serial the Simpsons yang sangat saya gemari. The Simpsons merupakan sebuah film kartun yang menceritakan tentang kisah sebuah keluarga menengah di AS. Salah satu tokoh di serial kartun itu adalah Homer Simpsons yang mempunyai karakter sebagai Bapak dari 2 orang perempuan dan 1 orang lelaki serta suami dari satu orang istri. Homer di gambarkan sebagai orang yang bodoh, pendek akalnya, selalu tidur di tempat kerja, senang minuman alkohol tetapi selalu dinaungi oleh Dewi Fortuna. Suatu hari, pengadilan di Amerika Serikat memanggilnya untuk menjadi salah seorang juri di persidangan percobaan pembunuhan yang dilakukan oleh salah seorang keponakan dari major Quimby yang merupakan major kota springfield, kota tempat keluarga Simpsons tinggal. Didalam persidangan itu, nampak sekali bahwa keponakan dari major Quimby sebagai terdakwa berada di posisi yang sangat lemah. Bahkan beberapa juri menganggap bahwa ini hanya kasus yang mudah untuk di selesaikan.

Kemudian apa yang terjadi? didalam rapat yang dilakukan oleh para juri tersebut, Hommer membaca peraturan tentang persidangan yang isinya bahwa bila terjadi deadlock didalam memutuskan apakah terdakwa bersalah atau tidak, semua juri akan di inapkan di sebuah hotel dan negara akan menanggung semua pengeluaran dari para juri. Mengetahui hal tersebut, Homer begitu berbahagianya dan dia membuat jalannya rapat menjadi deadlock dengan membuat keputusan yang tidak sama dengan para juri lainnya. Dia tidak mengetahui apakah keputusan yang dia nyatakan tersebut adalah keputusan yang tepat atau tidak. Bagi Homer, yang penting dia dapat tinggal di hotel yang enak, makan coklat sebanyak-banyaknya dengan gratis.

Mudah-mudahan para wakil rakyat yang kita hormati bukan merupakan Homer-Homer versi Indonesia. Janganlah berpikir seperti Homer yang membuat rapat yang dapat diselesaikan dengan mudah menjadi molor karena ingin menikmati empuknya kasur hotel dan menikmati room service dengan gratis. Homer hanyalah seorang yang bodoh yang selalu berada dibawah naungan Dewi Fortuna. Sedangkan para wakil rakyat lebih daripada itu.

Saya meyakini bahwa para wakil rakyat yang terhormat itu jauh lebih pintar dari Hommer. Mereka sampai di Senayan karena kemampuannya bukan karena mendapat anugerah dari langit. Dengan mempunyai sertifikat S1, S2 bahkan S3 menandakan bahwa tingkat intelegensi jauh diatas Hommer yang hanya lulusan SMA tetapi beruntung dapat bekerja di sebuah instalasi nuklir.

Tinggal di hotel berbintang, memakai jas rapih, mendapatkan pelayanan kelas satu bukan sebuah keberuntungan yang didapat begitu saja oleh para wakil rakyat. Itu adalah harga yang harus dibayar oleh rakyat untuk mendapatkan kehidupan yang lebih layak. Senang sekali bila kita sebagai seorang rakyat biasa bisa menerapkan ilmu ekonomi “dengan modal sedikit mendapat keuntungan yang besar”. Itu yang diharapkan oleh para rakyat. Saat ini yang terjadi adalah para wakil rakyat tersebut membuat rakyat yang diwakilinya mengeluarkan modal yang lebih besar tetapi tidak mendapatkan keuntungan apa-apa.
.
Selamat menunaikan tugas para wakil rakyat.
.
.
* Irvan Noormansyah


Leave a Comment so far
Leave a comment



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s



Follow

Get every new post delivered to your Inbox.